jangan terjebak dengan judul yang lumayan serius dan berat, itu dibuat hanya agar catatan ini tampak ilmiah dan keren
sebenarnya ini hanya catatan atas pengamatan sepanjang perjalanan akhir bulan puasa lalu yang masih mengganggu pikiran. daripada jadi jerawat, mendingan kan dituliskan. intinya adalah bahwa saya melihat ada kaitan antara cara berkomunikasi masyarakat dengan perilaku bertransportasi dan lebih jauh lagi dengan tata cara beribadah, sesuatu yang sepertinya mengada-ada, tapi saya harap jangan berapriori dulu. mungkin metodologi yang digunakan akan dibantah habis oleh para ilmuwan sosial karena hanya didasarkan pengamatan sesaat (walau semoga bukan sesat), tanpa penentuan dan jumlah sampel yang jelas. tapi memang semangatnya adalah berbagi, siapa tahu ada ide penelitian lintas ilmu yang bisa menjembatani pengamatan awal itu.
catatan ini didasarkan pada pengamatan di medan, makassar dan yogya yang ternyata memiliki beberapa karakter khas yang hampir sangat ekstrim perbedaannya. medan yang memiliki letak paling barat bolehlah disebut sebagai ekstrim kiri karena letaknya paling kiri di peta, sementara makassar yang memiliki letak paling timur ternyata memiliki karakteristik menengah, sehingga bolehlah disebut sebagai poros tengah, sementara yogya yang berada di tengah ternyata memiliki karakteristik ekstrim kanan. itu sekedar penyebutan nama untuk mempermudah pengkodean, tidak ada afiliasi dengan aliran politik maupun agama apapun.
karakteristik medan yang sangat berbeda dengan daerah lain terlihat jelas dalam hal bertransportasi, tidak ada jalan yang hening tanpa klakson di sana, bahkan ketika sebenarnya itu tidak diperlukan. semula saya berpikir orang medan ini begitu tidak sabarannya, begitu pemarahnya. lampu hijau baru menyala di perempatan langsung klakson, dan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. demikian juga di sepanjang jalan, tanpa sungkan memepet orang lain, berjalan pada jalur yang salah tanpa sungkan mengklakson kendaraan dari arah berlawanan untuk meminta jalan, sesuatu yang hampir mustahil ditemukan di yogya karena akan dimaki-maki banyak orang. tapi ini medan bung, semua itu bisa berjalan dengan ajaibnya. dan tiba-tiba saya berfikir, inilah sistem bertransportasi yang terbentuk dari sistem sosial masyarakat kota medan, lebih tegas lagi sistem dan cara berkomunikasi masyarakatnya. sistem ini bisa berjalan karena memang masyarakatnya bisa menerima, mereka suka yang ramai, riuh rendah, sebagaimana bisa banyak ditemui di kedai-kedai kopi (ini dari data sekunder, soalnya saya gak sempet ikut ngopi, buru2 soalnya). mereka mungkin akan merasa kesepian dan tidak nyaman berada dalam suasana berlalulintas yang sepi hening, mamring, nyenyet, seperti kuburan, maka berklakson ria merupakan cara para pengguna itu untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya, seperti juga kalau kita menyapa “hai” pada temen yang ditemui di jalan. dan lebih mengagetkan lagi, hal itu ternyata terbawa hingga ke cara beribadah. tidak ada keheningan yang benar-benar hening pada shalat tarawih yang sempat saya ikuti di masjid raya medan. selalu ada doa-doa yang diteriakkan dengan keras oleh pembaca doa dan disambut dengan teriakan yang tak kalah kerasnya dari jamaah yang hadir. kembali saya berfikir, inilah cara mereka berkomunikasi, bukan hanya dengan sesama, bahkan dengan yang di Atas (semoga analisis saya tidak terlalu kurang ajar).
meski begitu, saya berharap jangan dulu beranggapan bahwa kesukaan serba keras orang medan itu terbawa hingga ke pribadi orangnya. di balik kekerasan sikap itu, hati mereka begitu lembut, persis seperti idiom yang begitu populer: wajah rambo hati rinto. bagaimana saya bisa berkata begitu? pada akhir sholat itu, saya mendengar isak tangis tertahan dari seorang jemaah, seorang cowok berbadan tinggi besar, bercelana jeans, yang tertunduk sambil menangkupkan kedua tangannya. kembali saya terpana, begitu hidup ternyata hati mereka, begitu gampang tersentuh, sementara saya sendiri yang mungkin agak lemah gemulai ini, kapan terakhir kali menangis?
hmm, rasanya sudah panjang nulis ternyata masih ada 2 lagi yang harus dituliskan. berhubung sudah capek, saya persilahkan pembaca untuk berimajinasi bagaimana karakteristik 2 kota lainnya, tentu dengan benchmarking kota medan sebagai kota dengan karakteristik ekstrim kiri. maaf ya, silakan berimajinasi
)
Recent Comments