dalam kehidupan kita sehari-hari banyak ungkapan yang sebenarnya tidak benar-benar sesuai dengan arti yang dimaksudkan, namun demikian toh tetap saja komunikasi dapat berjalan dengan baik. misalnya ungkapan ‘mau mengambil atm dulu’, yang dimaksudkan tentunya bukan mengambil kotak atm untuk dibawa pulang, namun mengambil uang di atm.
mengapa hal itu dapat berjalan dengan baik, hal ini karena secara tidak sadar terdapat kesepakatan diantara pihak-pihak yang berkomunikasi untuk menyederhanakan ungkapan sehingga memudahkan baik bagi pembicara maupun yang mendengar. hal ini memiliki konsekuensi banyaknya kata yang hilang walaupun secara implisit tetap digunakan dalam pembicaraan. tentu hal ini memerlukan proses, yang mungkin berada dalam bawah sadar, sehingga lama-kelamaan menjadi kesepakatan umum.
apa yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa janganlah kita menilai sesuatu dari apa yang ada, yang tertulis dan terlihat, tetapi lihatlah esensi di balik sesuatu tersebut. saya yakin, yang di balik kata adalah jauh lebih indah dan memesona dibanding bila kita hanya terpaku pada kata per kata.
* mungkin tidak terlalu nyambung dan meloncat, soalnya buru2 buatnya, lain waktu saya sempurnakan
salah kaprah
Posted in Rada serius
transportasi, komunikasi dan religiusitas
jangan terjebak dengan judul yang lumayan serius dan berat, itu dibuat hanya agar catatan ini tampak ilmiah dan keren
sebenarnya ini hanya catatan atas pengamatan sepanjang perjalanan akhir bulan puasa lalu yang masih mengganggu pikiran. daripada jadi jerawat, mendingan kan dituliskan. intinya adalah bahwa saya melihat ada kaitan antara cara berkomunikasi masyarakat dengan perilaku bertransportasi dan lebih jauh lagi dengan tata cara beribadah, sesuatu yang sepertinya mengada-ada, tapi saya harap jangan berapriori dulu. mungkin metodologi yang digunakan akan dibantah habis oleh para ilmuwan sosial karena hanya didasarkan pengamatan sesaat (walau semoga bukan sesat), tanpa penentuan dan jumlah sampel yang jelas. tapi memang semangatnya adalah berbagi, siapa tahu ada ide penelitian lintas ilmu yang bisa menjembatani pengamatan awal itu.
catatan ini didasarkan pada pengamatan di medan, makassar dan yogya yang ternyata memiliki beberapa karakter khas yang hampir sangat ekstrim perbedaannya. medan yang memiliki letak paling barat bolehlah disebut sebagai ekstrim kiri karena letaknya paling kiri di peta, sementara makassar yang memiliki letak paling timur ternyata memiliki karakteristik menengah, sehingga bolehlah disebut sebagai poros tengah, sementara yogya yang berada di tengah ternyata memiliki karakteristik ekstrim kanan. itu sekedar penyebutan nama untuk mempermudah pengkodean, tidak ada afiliasi dengan aliran politik maupun agama apapun.
karakteristik medan yang sangat berbeda dengan daerah lain terlihat jelas dalam hal bertransportasi, tidak ada jalan yang hening tanpa klakson di sana, bahkan ketika sebenarnya itu tidak diperlukan. semula saya berpikir orang medan ini begitu tidak sabarannya, begitu pemarahnya. lampu hijau baru menyala di perempatan langsung klakson, dan bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. demikian juga di sepanjang jalan, tanpa sungkan memepet orang lain, berjalan pada jalur yang salah tanpa sungkan mengklakson kendaraan dari arah berlawanan untuk meminta jalan, sesuatu yang hampir mustahil ditemukan di yogya karena akan dimaki-maki banyak orang. tapi ini medan bung, semua itu bisa berjalan dengan ajaibnya. dan tiba-tiba saya berfikir, inilah sistem bertransportasi yang terbentuk dari sistem sosial masyarakat kota medan, lebih tegas lagi sistem dan cara berkomunikasi masyarakatnya. sistem ini bisa berjalan karena memang masyarakatnya bisa menerima, mereka suka yang ramai, riuh rendah, sebagaimana bisa banyak ditemui di kedai-kedai kopi (ini dari data sekunder, soalnya saya gak sempet ikut ngopi, buru2 soalnya). mereka mungkin akan merasa kesepian dan tidak nyaman berada dalam suasana berlalulintas yang sepi hening, mamring, nyenyet, seperti kuburan, maka berklakson ria merupakan cara para pengguna itu untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya, seperti juga kalau kita menyapa “hai” pada temen yang ditemui di jalan. dan lebih mengagetkan lagi, hal itu ternyata terbawa hingga ke cara beribadah. tidak ada keheningan yang benar-benar hening pada shalat tarawih yang sempat saya ikuti di masjid raya medan. selalu ada doa-doa yang diteriakkan dengan keras oleh pembaca doa dan disambut dengan teriakan yang tak kalah kerasnya dari jamaah yang hadir. kembali saya berfikir, inilah cara mereka berkomunikasi, bukan hanya dengan sesama, bahkan dengan yang di Atas (semoga analisis saya tidak terlalu kurang ajar).
meski begitu, saya berharap jangan dulu beranggapan bahwa kesukaan serba keras orang medan itu terbawa hingga ke pribadi orangnya. di balik kekerasan sikap itu, hati mereka begitu lembut, persis seperti idiom yang begitu populer: wajah rambo hati rinto. bagaimana saya bisa berkata begitu? pada akhir sholat itu, saya mendengar isak tangis tertahan dari seorang jemaah, seorang cowok berbadan tinggi besar, bercelana jeans, yang tertunduk sambil menangkupkan kedua tangannya. kembali saya terpana, begitu hidup ternyata hati mereka, begitu gampang tersentuh, sementara saya sendiri yang mungkin agak lemah gemulai ini, kapan terakhir kali menangis?
hmm, rasanya sudah panjang nulis ternyata masih ada 2 lagi yang harus dituliskan. berhubung sudah capek, saya persilahkan pembaca untuk berimajinasi bagaimana karakteristik 2 kota lainnya, tentu dengan benchmarking kota medan sebagai kota dengan karakteristik ekstrim kiri. maaf ya, silakan berimajinasi
)
Posted in Blogroll
buang sampah di jalan? gak banget dehh
seringkali kita temui di jalanan, orang-orang melempar sampah dari mobil yang ditumpanginya, gak peduli itu dari sedan butut atau mercy, mereka masih suka melakukan itu. ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kita seharusnya tidak melakukan hal yang menurut anak gaul sekarang ‘gak banget deh’ tersebut:
1. kita seharusnya tidak membuang sampah di jalan karena jalanan bukan tempat sampah. hal ini sebenarnya tidak perlu diterangkan panjang lebar kita seharusnya memahami. dari semenjak tk dulu kita sudah diajarkan oleh bu guru: ini buku, ini sendok dan sebagainya. semestinya kita juga bisa mengenai dengan baik apa itu tempat sampah. permasalahannya sepertinya tidak pada identifikasi barangnya, tetapi identifikasi fungsi dari barang tersebut. jadi mereka tidak dapat mengerti bahwa tempat sampah adalah tempat untuk membuang sampah, dan seharusnya menjadi dorongan untuk melakukan tindakan bahwa membuang sampah tempatnya di tempat sampah. kalau logika sederhana ini belum bisa dimengerti juga, mungkin perlu dilakukan pelatihan dan workhsop sehari mengenai ‘bagaimana mengenal fungsi benda-benda di sekeliling kita’. soal dimana dan kapan itu dilakukan, nanti saya tanyakan mbak yanti, anda gak kenal, nanti saya kenalin ![]()
2. kita seharusnya tidak membuang sampah di jalanan karena dapat menyebabkan luka ringan, catat tetap maupun kematian. ini dapat terjadi karena kemungkinan adanya kendaraan lain yang melaku dalam kecepatan tinggi menyambar anda. luka ringan kalau anda hanya mengulurkan sedikit tangan, cacat tetap dapat terjadi kalau anda mengulurkan tangan hingga ke siku misalnya, dan kematian dapat terjadi karena kendaraan oleng karena kurang konsentrasi menyetir. oleh karena itu, sebaiknya dipasang saja tempat sampah di mobil. kecil saja jangan besar-besar.
3. kita seharusnya tidak membuang sampah di jalanan karena itu tindakan memalukan, primitif dan tidak terpelajar. jangan tanya alasannya, karena saya hanya pengen mengumpat aja hehe.
Posted in Iseng-iseng, Rada serius
pelajaran dari seorang tukang wedang ronde
“wonten kok susukipun” katanya dengan mantap, bahkan cenderung keras. jawaban dari tukang wedang ronde itu menyentakku, membuatku berpikir, apa mungkin aku telah menyinggungnya? terus terang tadi aku sempat merasa kasihan melihat bapak ini masih berjualan, sendirian, malam-malam pula. kutaksir umurnya lebih dari 70 tahun, lebih tua dari bapakku yang sudah pensiun pula. karenanya, segera setelah satu mangkok tandas, kukembalikan pada bapak yang masih berdiri mengamati kompleks perumahan yang kecil dan sepi ini. “pinten pak?” tanyaku menanyakan berapa harganya. ‘kalih ewu gangsal atus,” jawabnya menyatakan kalo harganya 2500 rupiah. kuulurkan uang 3000 sambil menyatakan kalau kembaliannya diambil saja. dan tanpa aku sangka jawaban tadi yang aku terima, yang menyatakan kalau dia punya kembalian, sebuah penolakan secara halus. dengan cekatan bapak tua itu mencari-cari uang 500 rupiah di kotak uangnya dan segera mengulurkan kepadaku. wajahnya tampak mengeras diterawang lampu minyak gerobag dorongnya. kuterima uang itu dengan kikuk. “kapan2 mriki malih pak,” kataku mencoba mencairkan suasana, mengundangnya ke sini lain waktu. bapak tua itu hanya mengangguk dan bergegas pergi.
aku masih tercenung mengamati langkah kaki bapak tua itu menjauh menuju gerbang perumahan. langkahnya tampak tertatih, menerbitkan iba bagi yang melihatnya. tapi siapa sangka dalam kerapuhan itu dia memiliki kekuatan yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka yang masih kokoh berdiri: kekuatan untuk mengerti apa hak yang pantas dia terima, sekaligus kekuatan untuk menolak apa yang menurutnya bukan merupakan haknya. tiba-tiba, aku merasa begitu kecil di hadapan bapak tua itu…
Posted in Blogroll
10 alasan pengendara langsung membunyikan klakson begitu lampu hijau menyala di lampu merah
seringkali kita merasa kesal setiapkali lampu hijau menyala di persimpangan langsung terdengar klakson. sebenarnya apa alasan orang-orang itu membunyikan klakson, disini saya mencoba menuliskan 10 alasan, dari yang didasarkan prasangka yang sangat baik (PSB) hingga prasangka yang sangat tidak baik (PSTB), tentu diantara keduanya ada prasangka-prasangka dalam taraf medium maupun ekstrim.
berikut catatannya:
1. dia membawa anak kecil yang sedang main robot-robotan, lagi mau berlagak memukul lawan, secara tidak sengaja tangannya memencet klakson (kategori PSB)
2. dia digigit semut pada sikunya, sehingga tangan satunya reflek memukul, eh kesenggol klakson (PSB)
3. dia sedang mencoba klakson karena tadi motornya habis diservis sehingga tidak yakin klaksonnya sudah normal, kebetulan mencetnya pas lampu hijau baru menyala (PB)
4. dia mencoba mengingatkan pada pengendara yang paling jauuuuh di muka, bahwa lampu hijau sudah menyala, sapa tahu orang itu melamun atau tidak bisa melihat lampu karena berhentinya terlalu depan (kategori PB)
5. dia lagi kebelet pipis, jadi buru-buru harus jalan, itu lebih baik daripada ngompol di jalan, kan malu udah gede (N)
6. mata orang itu sedang kelilipan karenanya gak bisa melihat bahwa banyak kendaraan lain yang masih berhenti, dikiranya itu efek dari air mata yang mengaburkan pandangan (N)
7. dia ditungguin istrinya di rumah, tadi dipesenin beli bumbu dapur, kalau gak cepet-cepet nanti gak bisa masak (N)
8. dia tidak tahu kalau untuk maju itu perlu proses akselerasi mesin, karena dulu pas belajar fisika suka tidur (PTB)
9. dia tidak tahu bahwa antrian paling depan yang pasti paling dulu berjalan, baru diikuti antrian di belakangnya, gak bisa langsung dari belakang, emang dikiranya motor loncat apa (PSTB)
10. logika orang itu pasti tidak jalan sama sekali, egois dan hanya mementingkan diri sendiri, pasti nanti habis jalan juga cuma nyantai-nyantai, liat kiri kanan gak fokus ke depan, sambil smsan lagi, pasti hidupnya juga gak ada target, cuma kehendak-kehendak sesaat yang gak terencana (PSSSSTB)
silakan kalau mau ditambahi heheh
Posted in Blogroll
Recent Comments